Kiyai Hasan Mujarrad Sang Pejuang Kemerdekaan

Santri Diponegoro

Kiyai Hasan Mujarrad adalah sosok ulama karismatik didikan langsung dari Pangeran Diponegoro. Beliau lahir di Pekalongan, Jawa Tengah. Sejak masa remaja, beliau sudah bergabung dengan Pangeran Diponegoro memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

Selain menjadi tentara, beliau juga menekuni ilmu agama (nyantri). Di samping itu, beliau mempelajari strategi perang, ilmu kanuragan, serta dibekali beberapa wirid (aurod) untuk keselamatan dalam menghadapi penjajah.

Ketika Perang Diponegoro pecah pada tahun 1825–1830, Kiyai Hasan Mujarrad ikut serta bersama Pangeran Diponegoro. Beliau diberi amanat untuk memegang komando berupa keris tanpa luk (lurus). Setelah perang usai, sekitar tahun 1835 beliau ditugaskan ke arah Jawa Timur.

Tempat pertama yang beliau singgahi adalah daerah Parerejo, Pare, dan menetap selama 10 tahun. Di sana beliau menikah, namun belum mendirikan mushola atau pesantren. Rupanya, Belanda mengetahui persembunyiannya sehingga beliau melarikan diri ke arah Kediri kota. Di sana beliau bergabung dengan Kiyai Sholeh (keturunan Diponegoro) dari Banjar Melati.

Baca Juga  Catatan Bulan Agustus 2025

Setelah lima tahun bersama Kiyai Sholeh, beliau diperintahkan untuk menyusuri pinggiran Sungai Brantas hingga menemukan sebuah makam yang panjang. Sekitar tahun 1845, setelah makam tersebut ditemukan, Kiyai Hasan Mujarrad menetap di Dukuh Jalon sesuai arahan Kiyai Sholeh. Di tempat inilah beliau tinggal dan menikah dengan Mbah Maryam, putri dari pamong Desa Tanon.

Beliau kemudian menyusun strategi dengan mendirikan pesantren dan mushola yang kini dikenal sebagai Masjid Miftahul Jannah. Dalam masa persembunyian, beliau juga mendapat kiriman pejuang untuk digembleng dalam hal kekebalan dan kesaktian.

Menurut cerita dari cucunya, Bapak Afdolu, santri yang belajar pada beliau diwajibkan tirakat, berpuasa 40 hari, dan diakhiri dengan ujian berendam di kolam sambil dites dengan berbagai senjata. Jika berhasil, santri tersebut diberangkatkan untuk bergabung dengan pasukan lain di bawah satu komando dengan sandi-sandi tertentu sesuai amanat.

Baca Juga  Akhir zaman atau zaman akhir

Ciri khas tentara Diponegoro adalah adanya tanaman pohon sawo di depan masjid, mushola, atau pesantren.

Bukti Peninggalan

A. Senjata berupa keris kondo dan pedang
B. Tanaman pohon sawo di depan mushola
C. Grobok jati kuno
D. Kitab kuno (sudah hancur)
E. Makam
F. Anak dan keturunan

Leave a Comment