Bulan Agustus adalah bulan di mana rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan yang jatuh tepat pada tanggal 17 Agustus. Akan tetapi, ada catatan mengenai kegiatan masyarakat di kampung-kampung seperti lomba, karnaval, dan pentas seni. Banyak panitia lomba atau kegiatan yang justru merampas hak orang lain, misalnya dengan menutup jalan kecamatan atau kelurahan. Hal ini dianggap kurang etis karena pengguna jalan harus memutar arah lebih jauh dengan jarak yang lebih panjang untuk ditempuh.
Karnaval memang menjadi wadah untuk mengekspresikan seni dan kreativitas masyarakat. Namun, ada catatan: jangan sampai menutup jalan, apalagi sampai ada aturan bahwa ketika melewati jalur tersebut harus membayar sejumlah uang.
Begitu juga dengan gerak jalan. Dalam acara ini banyak pengguna jalan yang mengeluh karena jalan protokol ditutup. Ironisnya, jalan tersebut dijaga oleh oknum dengan alasan: “Jalan ini ditutup karena ada kegiatan”, seakan-akan hak pengguna jalan tidak penting dan tidak diperhatikan.
Pandangan yang kurang etis juga terlihat ketika karnaval tidak menceritakan sejarah kemerdekaan, tetapi justru berjoget di sepanjang jalan. Hal ini membuat masyarakat lupa akan sejarah kemerdekaan dan pengorbanan para pahlawan yang gugur. Bulan Agustus seakan hanya menjadi ajang pesta.
Namun demikian, penulis tetap optimis bahwa 17 Agustus adalah momen bersejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Merdeka sekali, merdeka tetap merdeka. NKRI harga mati!
SEMOGA TANAH AIRKU MENJADI
BALDATUN ṬAYYIBATUN WA RABBUN GHAFŪR
BANGGA JADI ORANG INDONESIA.
