Manusia

Manusia dalam pandangan ilmu hakiki terdiri dari dua unsur, yaitu unsur gaib dan unsur nyata (syahadah). Dalam tubuh manusia terdapat kandungan irasional dan metafisik/gaib yang dinamakan Ruh. Ruh diletakkan di seluruh badan, bahkan para ahli makrifat pun tidak dapat mendeteksinya ataupun menafsirkannya secara jelas. Seperti difirmankan oleh Allah SWT, urusan Ruh adalah urusan-Nya dan tidak ada satu pun yang mengetahuinya.

Ruh tersambung dengan hati (qalbu) sebagai media untuk menampung iman seorang hamba. Diakui ataupun tidak, itulah kenyataannya. Hati dipasang oleh-Nya untuk berkomunikasi dengan-Nya, tanpa ada yang mengetahuinya selain Allah SWT.

Dalam pandangan tasawuf, partikel hati berbentuk seperti kaca tembus pandang antara bumi dan langit tanpa terhalang oleh apapun. Setelah terpasang dalam tubuh manusia ketika berusia sekitar 15 tahun, pandangan hati mulai menjadi gelap—kecuali yang dikehendaki oleh-Nya.

Baca Juga  Proses Ilmu masuk dalam hati pelajar

Apakah kegunaan hati? Hati berfungsi untuk mendengar panggilan Allah SWT kepada hamba-Nya selama dua puluh empat jam tanpa henti. Ketika Ruh masih bersemayam di alam arwah, Ruh selalu berkomunikasi dengan Allah tanpa batasan. Semua dijawab oleh-Nya, terutama dalam lima waktu salat sehari semalam.

Unsur kedua adalah jasad atau badan. Jasad terbentuk dari sari-sari makanan yang bersumber dari bumi. Sari makanan terbaik dipilih oleh Allah SWT tanpa melibatkan siapapun di dunia ini, sesuai kodrat dan iradat-Nya. Jasad berguna untuk menerapkan suara hati atau kehendaknya ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Kontrolnya adalah hati nurani.

Jika Ruh dan jasad sudah berpisah, keduanya tentu memiliki sebutan yang berbeda.

Baca Juga  AKU

Makanan Ruh adalah tasbih, dzikir, ilmu, bacaan Al-Qur’an, dan amalan-amalan lainnya.

Makanan jasad adalah segala sesuatu yang bersumber dari sari tanah: biji-bijian, sayur-sayuran, daging, serta ditopang oleh sinar matahari agar tubuh dapat mencerna dengan sempurna.

Leave a Comment