Tren Berbusana Tapi Telanjang

Di era fison busana banyak dari kalangan  kaum hawa jadi korban fison atau model  dalam berbusana ,dalam hal ini  tua dan muda tidak mau ketinggalan degan tren terkini ,sehingga menimbulkan pandangan kurang etik dalam Islam ,coba kita tengok dalam fiqih tentu menjadi persoalan bagi dunia pendidikan Islam .fenomena ini banyak kita temui di pedesaan maupun di perkotaan ,budaya berbusana seperti ini sebenarnya bukan budaya Masyarakat Indonesia akan tetapi budaya bangsa lain yang masuk secara perlahan sehingga banyak menggeser budaya asli Indonesia ,fenomena ini banyak kita temui gaya busana atau berpakaian para remaja terutama kaum hawa, presentasi pergeseran hampir mencapai 40% tergeser kearah fison .Hakikat sebenarnya adalah untuk menutup aurat secara utuh ,ada beberapa perbedaan dengan dunia pesantren menutup aurat secara sempurna adalah sebuah peraturan yang harus di taati setiap santri bahkan dengan tegas yang tidak mentaatinya akan di keluarkan dari pesantren tersebut.memang dunia maya tanpa batas akan tetapi tergantung pada individu masing masing bagaimana kita dapa menyikapinya.

Istilah “berbusana tapi telanjang” sering dikaitkan dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits:

“Dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah aku lihat: (1) kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia; dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, condong kepada maksiat dan membuat orang lain condong kepadanya. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.”
(HR. Muslim no. 2128)

Makna “berpakaian tapi telanjang”

Para ulama menafsirkannya dengan beberapa pengertian:

  1. Pakaian tipis/transparan – menampakkan aurat, meskipun secara lahiriah mengenakan busana.
  2. Pakaian ketat – membentuk lekuk tubuh sehingga hakikatnya sama dengan tidak berpakaian.
  3. Pakaian tidak menutup aurat sesuai syariat – misalnya menampakkan rambut, dada, paha, atau bagian tubuh yang wajib ditutup.
  4. Berpakaian untuk pamer dan menggoda – tujuan berpakaian bukan menutup aurat tapi menarik perhatian (tabarruj).
Baca Juga  Tak Sezaman

Pesan moral

Hadits ini memberi peringatan keras agar umat Islam, terutama kaum wanita, menjaga kehormatan dengan:

  • Menutup aurat sesuai syariat (QS. An-Nur: 31, QS. Al-Ahzab: 59).
  • Tidak menggunakan pakaian sebagai sarana menggoda atau memancing syahwat.
  • Menyadari bahwa pakaian adalah simbol kesopanan, kehormatan, dan ketaatan, bukan sekadar mode.

Orientasi “berpakaian tapi telanjang”

Maksud dari orientasi atau kecenderungan orang yang berpakaian tapi telanjang adalah:

  1. Orientasi kepada syahwat & daya tarik fisik
    • Tujuannya bukan menutup aurat, tetapi menonjolkan tubuh, menarik perhatian lawan jenis, atau menggoda.
    • Hal ini termasuk tabarruj (berhias berlebihan) yang dilarang dalam Islam (QS. Al-Ahzab: 33).
  2. Orientasi pada mode & budaya hedonis
    • Meniru gaya berpakaian orang-orang kafir atau budaya yang tidak sesuai syariat.
    • Lebih mengutamakan tren fesyen daripada aturan agama.
  3. Orientasi pada pengakuan sosial (pamer/riya’)
    • Mengenakan pakaian yang membentuk tubuh atau transparan agar terlihat modern, seksi, atau “kekinian”.
    • Seolah-olah berpakaian, tetapi esensinya sama dengan telanjang.
  4. Orientasi meninggalkan identitas keimanan
    • Pakaian seharusnya melambangkan kehormatan, kesopanan, dan ketaatan.
    • Jika berpakaian tapi telanjang, berarti orientasinya menjauh dari tujuan busana dalam Islam (QS. Al-A’raf: 26: “…pakaian takwa itulah yang paling baik…”).

Jadi, orientasinya adalah pada duniawi (syahwat, mode, pamer), bukan ukhrawi (ketaatan, menjaga kehormatan, dan taqwa).

Mau saya buatkan tabel ringkas yang membandingkan orientasi berpakaian Islami vs berpakaian tapi telanjang, biar lebih jelas untuk bahan kajian atau presentasi?

Kalau kita bicara tentang orientasi berpakaian tapi telanjang, maksudnya adalah arah atau tujuan seseorang dalam berbusana. Dalam Islam, berpakaian seharusnya berorientasi pada menutup aurat, menjaga kehormatan, dan menampilkan adab yang mulia.

Baca Juga  Tanda-Tanda Wanita yang Tidak Setia (Hanya Sebuah Prediksi)

Namun, fenomena berbusana tapi telanjang menunjukkan orientasi yang salah, misalnya:

  1. Orientasi sensualitas → berpakaian untuk memamerkan lekuk tubuh atau menarik syahwat orang lain.
  2. Orientasi mode & gaya hidup → lebih mengutamakan tren daripada aturan syariat.
  3. Orientasi pamer (tabarruj) → menjadikan pakaian sebagai sarana mencari perhatian dan popularitas.
  4. Orientasi keliru terhadap kebebasan → menganggap “bebas berpakaian” berarti bebas tanpa batas, meski melanggar norma agama.

Dalam Islam, orientasi berpakaian diarahkan untuk taqwa :

“… Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A‘raf: 26)

Tahukah Anda? Dalam sejarah peradaban, pakaian bukan sekadar penutup tubuh, tapi juga simbol identitas, nilai, dan spiritualitas—itulah sebabnya hampir semua agama punya aturan berpakaian tertentu.

Mau saya buatkan diagram perbandingan antara orientasi berpakaian menurut Islam dan orientasi berpakaian modern (mode, gaya hidup, dll.) supaya lebih mudah dipahami?

Efek sosial

fenomena ini bukan sekadar persoalan individu, tapi juga berdampak pada masyarakat secara luas. Berikut beberapa efek sosialnya:

  1. Meningkatkan objektifikasi perempuan
  • Perempuan dilihat hanya dari tubuh dan penampilan, bukan dari akhlak, ilmu, atau kontribusi nya.
  • Muncul budaya “memamerkan” diri agar dianggap cantik atau trendi. 2. Melemahkan moralitas masyarakat
  • Pakaian yang ketat, minim, atau transparan menormalisasi perilaku yang mendekati maksiat.
  • Menyuburkan budaya hedonisme dan seksualisasi dalam pergaulan. 3. Memicu pergaulan bebas dan kriminalitas
  • Bisa menjadi pemicu pelecehan, meskipun tentu pelecehan tetap salah dan tidak dibenarkan apapun alasannya.
  • Longgarnya batas aurat memperbesar peluang terjadinya zina atau perilaku asusila. 4. Menggeser nilai identitas dan budaya
  • Orientasi berpakaian lebih mengacu ke tren Barat/global, bukan pada nilai agama atau budaya lokal.
  • Muncul perasaan minder bagi yang berpakaian syar’i, seakan-akan tidak modern. 5. Kerusakan tatanan keluarga
  • Normalisasi aurat dan busana terbuka bisa mengurangi rasa malu (haya’), padahal malu adalah benteng kehormatan.
  • Dapat mempengaruhi generasi muda untuk terbiasa dengan pakaian yang tidak sesuai syariat.
Baca Juga  Jomblo Salah Jatuh Cinta

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu (al-haya’).” (HR. Ibnu Majah no. 4181)

Dalam Islam, hukum berbusana tapi telanjang jelas dilarang (haram), karena bertentangan dengan syariat tentang menutup aurat, menjaga rasa malu, dan kehormatan diri.

 Dalil Al-Qur’an

  1. QS. Al-A‘raf: 26

“Wahai anak Adam! Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa itulah yang paling baik…”

Ayat ini menegaskan fungsi utama pakaian: menutup aurat dan menjaga kehormatan, bukan untuk mempertontonkan tubuh.

  1. QS. An-Nur: 31

“Dan katakanlah kepada wanita beriman agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak darinya…”

Perintah untuk menutup aurat dengan benar.

 Hadits Nabi

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya: … wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, condong kepada maksiat dan membuat orang lain condong kepadanya… mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.”
(HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini secara tegas melarang dan mengancam wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang (karena tipis, ketat, atau tidak menutup aurat).

 Kesimpulan Hukum

  • Haram hukumnya berpakaian tapi telanjang, baik untuk wanita maupun pria.
  • Masuk kategori tabarruj (pamer kecantikan/aurat), yang dilarang dalam QS. Al-Ahzab: 33.
  • Termasuk perbuatan yang mendatangkan murka Allah, merusak moral, dan menjauhkan pelakunya dari rahmat Allah.

Jadi, Islam menuntun agar orientasi berpakaian adalah:

  1. Menutup aurat sesuai ketentuan.
  2. Menjaga rasa malu.
  3. Menghindari pakaian yang menimbulkan fitnah.
  4. Mengutamakan pakaian takwa sebagai simbol kehormatan.

والله اعلم بالصواب

 

 

 

Leave a Comment