Rentenir adalah orang yang meminjamkan uang dengan bunga atau tambahan yang dipersyaratkan.
Dalam bahasa Al-Qur’an, ini disebut riba, yang artinya: tambahan atau kelebihan yang diambil secara zalim.
2️ Hukum riba dalam Al-Qur’an
HARAM secara mutlak
Termasuk dosa besar
Allah Ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran penyakit gila…”
(QS. Al-Baqarah: 275)
“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”
(QS. Al-Baqarah: 275)
3️Ancaman paling keras bagi rentenir
Surat Al-Baqarah 278–279:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu…”
Perhatikan kalimatnya:
“Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.”
Ini satu-satunya dosa yang Allah umumkan perang secara langsung terhadap pelakunya.
4️ Status dosa riba menurut hadits
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, sementara dia tahu, lebih buruk dosanya daripada tiga puluh enam kali zina.”
(HR. Ahmad)
Dalam riwayat lain:
“Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu (tingkatan dosa). Yang paling ringan seperti seseorang menzinai ibunya sendiri.”
(HR. Al-Hakim)
5️ Siapa saja yang kena dosa?
Dalam hadits riwayat Muslim, Nabi ﷺ bersabda:
“Allah melaknat pemakan riba, pemberi riba, pencatatnya, dan dua saksi. Beliau bersabda: mereka semuanya sama (dosanya).”
Pemakan riba (rentenir)
Pemberi riba (yang sengaja pinjam dengan bunga)
Pencatat transaksi riba
Saksi transaksi riba
6️ Jalan taubat bagi rentenir
Segera berhenti total dari riba.
Bertaubat sungguh-sungguh kepada Allah:
Menyesal.
Berhenti.
Bertekad tidak mengulangi.
Jika ada bunga yang sudah diambil, kembalikan kepada peminjam jika memungkinkan.
cara menghidari sebagai rentenir
Pertanyaanmu luar biasa penting, karena banyak orang terjebak jadi rentenir bukan karena niat jahat, tapi karena ikut-ikutan kebiasaan masyarakat, atau kurang ilmu.
Berikut cara praktis supaya kita tidak jadi rentenir, lengkap dengan langkah konkret:
1️ Pahami Ilmu Riba dengan Jelas
Pelajari apa itu riba, apa bedanya dengan jual beli.
Pahami bahwa setiap pinjaman yang menghasilkan keuntungan adalah riba.
Contoh:
- Pinjamkan Rp1.000.000 dengan syarat dikembalikan Rp1.200.000 = RIBA.
- Pinjamkan Rp1.000.000 lalu minta “ucapan terima kasih berupa hadiah wajib” = RIBA.
Ilmu adalah benteng pertama.
2️Jangan Jadikan Pinjaman Sebagai Sumber Penghasilan
Kalau mau menolong orang, beri pinjaman tanpa bunga.
Kalau mau mencari untung, lakukan akad bisnis atau jual beli syar’i, bukan pinjaman berbunga.
Contoh:
: Jual barang dengan margin keuntungan yang jelas.
3️ Tegas Menolak Transaksi Riba
Jika ada yang meminta pinjaman lalu menawarkan bunga, katakan:
“Maaf, saya hanya bisa meminjamkan tanpa bunga, karena riba itu dosa besar.”
Jika terpaksa menolak, lakukan dengan santun:
“Saya lebih baik tidak meminjamkan daripada harus mengambil riba.”
4️ Hindari Jadi Makelar atau Pencatat Riba
Jangan menjadi pencatat, saksi, atau perantara transaksi pinjaman berbunga.
Dalam hadits: “Mereka semua sama (dosanya).” (HR. Muslim)
5️Cari Sumber Penghasilan Halal
Banyak usaha yang lebih berkah dan lebih tenang daripada menjadi rentenir.
Contoh:
Dagang barang halal (sembako, baju).
Buka layanan jasa.
Usaha kuliner.
Bagi hasil modal usaha secara syar’i.
6️ Biasakan Membantu Orang Lain Tanpa Mengharapkan Tambahan
Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Kalau ingin pahala besar, niatkan pinjaman sebagai sedekah yang akan kembali.
7️ Jika Sudah Terlanjur, Segera Hentikan & Taubat
Hentikan praktik riba seketika.
Hitung bunga yang sudah diambil, kembalikan ke peminjam bila memungkinkan.
Taubat nasuha:
- Menyesal.
- Berhenti total.
- Tekad tidak mengulangi.
Kunci Utama
Jangan takut rezeki jadi sempit karena meninggalkan riba.
Allah berfirman:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…”
(QS. Al-Baqarah: 276)
Rezeki yang halal, meski tampak sedikit, jauh lebih berkah dan cukup.
