LUKA YANG TERPENDAM

HINDUN CONTESIA

Kata orang papa adalah cinta pertama anak perempuannya — namun tidak bagi penulis.

Pada kebanyakan orang, papa adalah cinta pertama anak perempuannya, mayoritas begitu. Tapi itu tidak berlaku bagi penulis, karena bagi penulis papa hanyalah awal dari semua luka yang ada.

CIARA KAMALIA DIRGANTARI, sering disapa Cia, ditinggal papanya sejak dua bulan dalam kandungan — pergi tanpa meninggalkan penjelasan yang jelas. Papa tidak pernah datang bahkan saat Cia lahir. Saat seorang bayi biasanya diadzani oleh papanya, itu pun tidak berlaku untuk Cia.

Dari kecil Cia hidup bersama bunda, nenek, dan kakek. Bunda sangat sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan Cia, sehingga sejak kecil Cia selalu bersama nenek dan kakek — ia tidak terlalu akrab dengan bundanya.

Baca Juga  Akhir zaman atau zaman akhir

Sampai umur Cia satu tahun, bunda memutuskan untuk menikah lagi. Tak lama dari pernikahan itu lahirlah anak laki-laki yang diberi nama Muhammad Dwi Alexndra. Semua tampak baik-baik saja sampai laki-laki yang dipanggil bapak itu menunjukkan sifat buruknya: pulang malam, minum-minuman, mencuri, dan melakukan kekerasan. Hingga akhirnya bunda lelah dan memutuskan untuk bercerai.

Aku kira hadirnya menjadikan kebahagiaan
Tapi sebaliknya hadirnya justru membuat luka semakin dalam

Sejak bercerai, bunda semakin sibuk bekerja dan emosional. Sejak saat itu hidup Cia sepenuhnya dirawat oleh nenek dan kakek. Hidup Cia dituntut sempurna oleh bundanya tanpa ada cacat sedikitpun.

Setiap harinya hidup Cia penuh luka dan trauma karena tuntutan harus sempurna dari bundanya, sehingga Cia selalu takut melakukan apa pun yang ia inginkan. Rasa trauma akan pukulan, suara keras, dan bentakan membuatnya menjadi anak yang introvert. Semakin banyak masalah yang dihadapinya, semakin takut ia untuk menceritakan apa pun kepada dunia, dan semakin banyak pula trauma yang ia simpan — namun tak ada yang tahu, karena ia tidak pernah menunjukkan kesedihan atau masalahnya.

Baca Juga  Tren Berbusana Tapi Telanjang

Di balik itu semua, ada banyak luka yang harus ia obati sendiri tanpa diketahui siapa pun.

Anak sekecil itu harus bertarung hebat menghadapi kerasnya dunia tanpa bisa berbicara tentang apa yang ia alami, dan hanya bisa menangis dalam keheningan malam.

Belum sempat aku tertawa akan candanya,
tapi sudah dibuat hancur sejadi-jadinya.

Leave a Comment