Di awal tahun 2006 ada sebuah cerita dari seorang jomblo yang salah jatuh cinta.
Siang itu, sekitar jam 11.30, ada seorang gadis di pinggir jalan dengan wajah putih berseri. Ia mengenakan jilbab abu-abu, layaknya anak sekolah setingkat SMA. Gadis itu memandang seorang jomblo berusia sekitar 33 tahun yang sedang berjalan di pinggir jalan raya sekitar Embong Mereng, Perak, Jombang.
Dengan penuh percaya diri dan wajah semringah, sang jomblo menyapa:
“Adik, mau ke mana kok sendirian di siang hari yang panas begini?”
Gadis itu menjawab:
“Mau pulang, Mas.”
Sang jomblo pun menawarkan:
“Bisa saya antar?”
Gadis itu menjawab lirih:
“Jangan, Mas… suatu saat nanti kita ketemu di rumahku.”
“Kalau begitu, rumahnya di mana?” tanya sang jomblo.
Gadis itu lalu memberikan secarik kertas berisi alamat dan nama orang tuanya.
Kemudian, sang jomblo bertanya lagi:
“Adik, maukah kamu saya jadikan istri?”
Gadis itu tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menganggukkan kepala dengan pandangan tersipu malu.
“Kapan kira-kira saya bisa datang ke rumahmu?” tanya sang jomblo lagi.
“Besok Senin saja, Mas.”
“Oh, ya, Dek,” jawab sang jomblo sambil menyimpan kertas alamat itu ke dalam sakunya.
Hari Senin
Pada hari Senin, sang jomblo benar-benar datang ke alamat yang tertera di kertas. Ia mengucap salam dan dipersilakan masuk. Setelah berbincang sebentar, sang jomblo menyampaikan maksud kedatangannya untuk melamar anak tuan rumah yang bernama XX.
Namun, tiba-tiba orang tua XX menangis sejadi-jadinya. Sang jomblo menjadi bingung dan salah tingkah. Ia pun memberanikan diri bertanya:
“Ada apa kiranya hingga Bapak dan Ibu menangis?”
Dengan berlinang air mata, tuan rumah menjawab:
“Anak yang Mas maksud sudah meninggal karena kecelakaan saat berangkat sekolah… kemarin pas seratus harinya.”
Sang jomblo pun terbengong. Padahal dua hari sebelumnya ia masih bertemu dengan gadis itu…
والله أعلم بالصواب
